loading…
Laksma TNI Salim, Kapusjianmar Seskoal. Foto/istimewa
Kapusjianmar Seskoal
SEJARAH peradaban maritim dunia kini berada Di ambang titik balik radikal. Pada lebih Didalam satu abad, mazhab kekuatan laut Dunia didikte Didalam paradigma tradisional Alfred Thayer Mahan yang mengagungkan Sea Control, konsentrasi armada capital ships seperti kapal induk, serta bentrokan terbuka fleet-on-fleet Untuk menguasai jalur Pengiriman dunia. Tetapi, dinamika Hubungan Dunia mutakhir terutama tercermin Didalam konstelasi strategis Arena asimetris Antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah meruntuhkan mitos dominasi mutlak tersebut.
Konflik ini membuktikan secara empiris bahwa hegemoni kekuatan konvensional dapat dipatahkan Didalam efektivitas doktrin maritim modern: strategi Sea Denial, kerangka Anti-Access/Area Denial (A2/AD) ala Iran dan China, serta pendekatan taktis Hybrid & Distributed Lethality. Di Di era Globalization 2.0 yang diwarnai Didalam fragmentasi ekonomi, Konflik Bersenjata dagang, dan kerentanan rantai pasok Dunia, ukuran besar sebuah angkatan laut tidak lagi ditentukan Didalam tonase besi baja semata, melainkan Didalam ketepatan kalkulasi cost-asymmetry dan daya gentar strategis (strategic deterrence).
Untuk Indonesia sebagai Negeri kepulauan terbesar Di dunia, pergeseran paradigma Dunia ini bukan sekadar kajian akademis, melainkan panggilan sejarah yang mendesak. Sebagai Negeri kepulauan terbesar Di dunia yang membentang Di Antara dua samudera, kedaulatan Nusantara tidak boleh lagi hanya bergantung Ke mimpi usang penguasaan laut penuh (Sea Control) yang menelan biaya Keuangan raksasa dan rentan Di modern precision-strike.
Indonesia harus berani melakukan transformasi doktrinal Didalam Menerapkan dan mengombinasikan pilar-pilar strategis modern: mengoptimalkan strategi Sea Denial Sebagai mengamankan perairan teritorial, memaksimalkan potensi teori Anti-Access Di celah-celah chokepoints strategis Indonesia, serta merevitalisasi semangat Jeune École modern Melewati pemanfaatan Keahlian nirawak, armada cepat berdaya hancur tinggi (distributed lethality), dan sistem Lini Pertahanan pesisir yang terintegrasi.
Transformasi ini adalah harga mati Sebagai melindungi kekayaan Peningkatan Ekonomi Didalam cengkeraman economic warfare Dunia. Bangsa Indonesia harus sadar bahwa kekuatan Lini Pertahanan maritim masa Didepan lahir Didalam kecerdasan taktis, kemandirian industri Lini Pertahanan lokal, dan keberanian merangkul peperangan asimetris yang efisien. Didalam membangun postur angkatan laut yang adaptif, berbasis Keahlian adaptif, dan berakar Ke doktrin Lini Pertahanan rakyat semesta, Indonesia tidak hanya Berencana disegani secara militer, tetapi juga mampu menjaga kedaulatan ekonomi serta martabat bangsa Di kancah peradaban maritim Dunia abad Di-21.
Memasuki fajar Globalization 2.0, lanskap Hubungan Dunia dan ekonomi dunia tidak lagi dicirikan Didalam integrasi pasar yang mulus, melainkan Didalam fragmentasi blok ekonomi, Keputusan de-risking, serta proteksionisme jalur pasokan yang kian pekat. Di Pada yang sama, hadirnya era Economic Warfare Di mana Pembatasan, embargo, dan gangguan jalur Pengiriman dijadikan senjata utama menuntut perubahan mendasar Di cara sebuah bangsa memandang kekuatan maritimnya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Era Globalization 2.0 dan Economic Warfare











