Bagi banyak pasien gagal ginjal tahap akhir, rutinitas cuci darah mesin (hemodialisis) sering kali dirasa melelahkan Sebab harus menghabiskan waktu berjam-jam Hingga Puskesmas. Akan Tetapi, kemajuan medis menawarkan alternatif yang lebih fleksibel Lewat Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).
Berbeda Bersama cuci darah mesin, CAPD memindahkan proses pembersihan racun langsung Hingga Untuk tubuh pasien sendiri, menggunakan selaput perut sebagai penyaring alami.
Untuk sebuah diskusi Keadaan, para pakar menekankan bahwa CAPD bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal menjaga fungsi organ tubuh lainnya. dr. Ni Made Hustrini, SpPD, K-GH, menjelaskan bahwa CAPD jauh lebih ‘ramah’ Bagi jantung Sebab perpindahan cairannya terjadi secara perlahan dan terus-menerus Pada 24 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bagi peritoneal dialysis, pasien bisa melakikan sendiri cuci darahnya Sambil kalau hemodialisis dia berhantung Ke perawat. Bersama Sebab Itu pasien Berencana diajari utk melakukan capdnya Bersama baik sampai dia lulus jd bisa melakukan sendiri Hingga Rumah,” ungkap dr. Ni Made Untuk tayangan Youtube RSCM dikutip Selasa (17/3/2026).
“Bersama CAPD, pasien bisa mempertahankan fungsi berkemih lebih lama dibandingkan pasien hemodialisis. Jika pasien masih bisa kencing lebih lama, maka angka harapan hidup atau survival-nya pun Berencana lebih panjang,” sambungnya.
Kepentingan utama CAPD yang sering dirasakan langsung Bersama pasien adalah fleksibilitasnya. Sebab dilakukan secara mandiri Hingga Rumah atau tempat Kegiatan, pasien tidak perlu bolak-balik Hingga Puskesmas setiap minggu. Hal ini Memberi kemandirian fisik dan mental yang luar biasa.
Hingga Samping Itu, batasan pola makan pun menjadi lebih longgar. Sebab pembersihan racun terjadi setiap hari, risiko penumpukan zat berbahaya seperti kalium menjadi jauh lebih rendah. Pasien CAPD justru disarankan mengonsumsi banyak serat agar saluran pencernaan lancar, yang secara tidak langsung mendukung efektivitas penyaringan Hingga perut.
Perbedaan CAPD vs Hemodialisis (HD)
Banyak pasien yang ragu berpindah Bersama HD Hingga CAPD Sebab faktor ketidaktahuan. Padahal, ada beberapa perbedaan signifikan yang menguntungkan pasien:
- Tanpa Jarum Suntik: Jika HD mengharuskan penusukan jarum setiap sesi, CAPD hanya menggunakan kateter permanen yang terpasang Hingga perut.
- Pola Makan Lebih Longgar: Pasien CAPD justru dianjurkan makan banyak serat dan buah-buahan Bagi menjaga kelancaran pencernaan, hal yang biasanya sangat dibatasi Ke pasien HD.
- Stabilitas Fisik: Pasien HD sering merasa sangat lemas Setelahnya sesi selesai Sebab racun dikuras secara agresif. Ke CAPD, Kebugaran tubuh cenderung lebih stabil Sebab racun dibuang secara bertahap setiap hari.
Prosedur CAPD Ditanggung BPJS
Bersama sisi Keputusan nasional, pemerintah Lewat BPJS Keadaan sebenarnya telah Memberi Pemberian penuh. Tarif CAPD telah diatur Untuk skema yang mencakup seluruh kebutuhan Pengiriman hingga biaya pengiriman alat Hingga Rumah pasien.
Jika dibandingkan secara akumulatif, biaya CAPD cenderung lebih efisien dibandingkan hemodialisis yang memerlukan biaya operasional Puskesmas yang tinggi serta biaya transportasi pasien yang tidak sedikit.
Bersama sisi pembiayaan, terapi CAPD juga telah diatur Untuk Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai Tarif Non-Indonesian Case Based Group (non INA-CBG) Bersama besaran Disekitar Rp8 juta per bulan. Tarif tersebut sudah mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta distribusi Pengiriman terapi Hingga Rumah pasien.
Sebagai perbandingan, klaim BPJS Keadaan Bagi hemodialisis Lewat skema INA-CBG berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas Puskesmas dan wilayahnya.
Halaman 2 Bersama 3
(kna/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Mengenal CAPD, ‘Cuci Darah’ Pasien Gagal Ginjal yang Bisa Dilakukan Hingga Rumah











