Foto Health
Rifkianto Nugroho – detikHealth
Rabu, 15 Apr 2026 22:45 WIB
Jakarta – Stunting dan anemia masih Karena Itu tantangan serius Di Indonesia, berdampak Di Perkembangan fisik serta kemampuan belajar dan perkembangan kognitif anak.
Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC) Prof Nila Djuwita F. moeloek Pada memaparkan materi Di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Menurut kajian Di Indonesia Health Development Center (IHDC), tingginya Peristiwa Pidana anemia defisiensi besi Di anak usia sekolah yang diperkirakan mencapai 20 hingga 40 persen Berpotensi Sebagai mengganggu fungsi kognitif, termasuk kemampuan working memory.
Working memory merupakan kemampuan otak Sebagai menyimpan dan mengolah informasi Di jangka pendek. Fungsi ini sangat penting Di mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan menyelesaikan tugas belajar Di sekolah.
Di studi yang dilakukan Di Di 335 siswa sekolah dasar Di Jakarta, IHDC menemukan Di 19,7 persen anak Merasakan anemia, Sambil 22,1 persen lainnya Merasakan kesulitan Di working memory. Hasil Eksperimen juga Menunjukkan bahwa kadar hemoglobin yang rendah berkaitan erat Di menurunnya kemampuan kognitif tersebut.
Pemenuhan gizi seimbang menjadi Kunci Di mendukung tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan belajar. Asupan protein, zat besi, serta Minuman Bergizi lain seperti vitamin dan mineral berperan penting Di perkembangan otak, daya ingat, dan konsentrasi. Peran keluarga dan sekolah juga dinilai krusial Di membentuk kebiasaan makan sehat Dari dini. Banyak orang tua yang belum Mengetahui bahwa kesulitan anak Di fokus belajar dapat berkaitan Di Kemakmuran gizi yang tidak optimal.
IHDC menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor Di menangani masalah ini. Pemberian Di berbagai pihak, termasuk dunia usaha seperti Danone Indonesia, diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan gizi anak Melewati Belajar dan Inisiatif preventif. Di langkah terpadu, diharapkan masalah stunting dan anemia dapat ditekan, Agar anak-anak Indonesia Memiliki kemampuan belajar yang optimal dan siap bersaing Di masa Di.
 
 
 
 
 
 
 
 
`;
constructor() {
super();
this.attachShadow({ Tren: “open” });
this.shadowRoot.innerHTML = CbRekomenditDesktop.html;
}
async connectedCallback() {
// Handle share button clicks
this.shadowRoot
.querySelectorAll(“.cb-rekomendit__share-btn”)
.forEach((btn) => {
btn.addEventListener(“click”, (e) => {
e.preventDefault();
e.stopPropagation();
const url = btn.getAttribute(“data-url”);
const title = btn.getAttribute(“data-title”);
if (navigator.share) {
navigator
.share({
title: title,
url: url,
})
.catch(console.error);
} else {
// Fallback: Copy to clipboard
navigator.clipboard.writeText(url).then(() => {
alert(“Link copied to clipboard!”);
});
}
});
});
}
}
customElements.define(“cb-rekomendit”, CbRekomenditDesktop);
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Stunting dan Anemia Masih Tinggi, Kemampuan Belajar Anak Terancam











