Pernah merasa terus memikirkan Konsumsi padahal Mutakhir saja makan? Ternyata ini bukan Sebab tubuh merasa lapar, melainkan Sebab ‘food noise’. Ini penjelasannya!
Food noise merupakan munculnya pikiran tentang Konsumsi secara berulang yang kerap disalahartikan sebagai rasa lapar. Jika dibiarkan, food noise dapat Mendorong seseorang mengonsumsi kalori berlebihan hingga berisiko Merasakan kenaikan berat badan dan gangguan Kesejaganan lain
Sebab itu, penting memahami cara meredam food noise agar hubungan Bersama Konsumsi menjadi lebih sehat. Dilansir Bersama Fox News (27/02/2026) berikut penjelasan lengkap tentang food noise dan bagaimana cara menghentikan food noise.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Food Noise?
|
Food Noise. Foto: Getty Images
|
Food noise merupakan istilah Sebagai menggambarkan pikiran tentang Konsumsi yang muncul terus-menerus dan sering kali disalahartikan sebagai rasa lapar Dari banyak orang.
Jika tidak disadari, food noise bisa membuat seseorang mengonsumsi Konsumsi dan kalori berlebihan hingga berisiko Merasakan kenaikan berat badan, obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan gangguan tidur.
Ahli gizi Kat Garcia-Benson menjelaskan food noise biasanya ditandai Bersama munculnya pikiran seperti keinginan mengkonsumsi Konsumsi tertentu atau kebingungan memilih Konsumsi sehat.
Munculnya food noise ini bisa disebabkan banyak faktor. Salah satunya kebiasaan melewatkan waktu makan, aturan Asupan Konsumsi yang terlalu ketat, Beban, kurang tidur, hingga Kebugaran medis tertentu dapat memperburuknya. Kat menyebut bahwa food noise bukan tanda kurangnya tubuh Di Konsumsi, melainkan respons tubuh Di pola makan yang tidak konsisten.
Cara Menghentikan Food Noise:
1. Catat Pola Lapar dan Keinginan Makan
Catat pola makan. Foto: iStock |
Langkah pertama Sebagai meredam food noise adalah mengenali pemicunya. Salah satu cara sederhana yang disarankan banyak ahli gizi ialah membuat catatan ketika tubuh terasa lapar. Catat waktu ketika keinginan makan terasa paling kuat, misalnya Pada Di bekerja, menjelang malam, atau ketika main handphone.
Bersama menuliskannya secara rutin, seseorang dapat melihat pola yang berulang dan memahami apakah dorongan Konsumsi tersebut benar-benar lapar fisik atau sekadar respons emosional.
Cara ini membantu membangun kesadaran Di kebiasaan makan sehari-hari sekaligus menjadi dasar Sebagai memperbaiki hubungan Bersama Konsumsi secara lebih sehat dan terarah.
2. Perbanyak Asupan Serat dan Protein
Perbanyak Asupan Serat dan Protein. Foto: iStock |
Asupan serat dan protein yang cukup terbukti membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Kedua zat gizi ini berperan merangsang hormon alami yang memberi sinyal kenyang Hingga otak Agar dapat menekan keinginan makan berlebihan.
Para ahli merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi Disekitar 25 hingga 38 gram serat per hari serta minimal 0,8 gram protein per kilogram Bersama berat badan masing-masing.
Di beberapa Peristiwa Pidana, asupan protein yang lebih tinggi juga dianjurkan Sebagai membantu mengontrol nafsu makan. Pola makan seimbang Bersama kandungan serat dan protein yang memadai dapat menjadi strategi efektif Sebagai meredakan food noise.
3. Makan Perlahan
Kebiasaan makan terburu-buru kerap membuat seseorang sulit mengenali sinyal kenyang Di tubuh. Sebab itu, para ahli gizi menyarankan agar orang-orang Sebagai makan secara perlahan dan lebih fokus Di setiap suapan.
Hindari makan sambil bermain Smart Phone atau menonton Tv agar perhatian tidak teralihkan. Bersama makan secara sadar dan perlahan, tubuh Memperoleh waktu Sebagai mengirimkan sinyal kenyang Hingga otak Agar risiko makan berlebihan dapat ditekan.
Pendekatan ini juga membantu seseorang lebih menghargai rasa dan tekstur Konsumsi. Membangun kebiasaan makan yang Tenteram dan teratur menjadi langkah penting Di Mengurangi dorongan makan yang tidak perlu.
4. Ritme Tidur yang Baik
Perbaiki Ritme Tidur. Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan |
Kurang tidur dapat memengaruhi kontrol diri Di asupan Konsumsi keesokan harinya. Sejumlah Studi Menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur cenderung ngidam Konsumsi tinggi karbohidrat dan Konsumsi cepat saji Sebagai Meningkatkan energi secara cepat.
Kebugaran ini dapat memperburuk food noise Agar pilihan Konsumsi Karena Itu tidak sehat. Banyak ahli Kesejaganan yang menganjurkan agar orang dewasa tidur Di 7 hingga 9 jam setiap malam.
Waktu tidur yang cukup dapat membantu menyeimbangkan hormon pengatur rasa lapar dan kenyang. Bersama Ritme Tidur yang baik, tubuh lebih stabil Di mengatur nafsu makan dan tidak mudah tergoda Sebagai makan secara berlebihan.
5. Hindari Beban Berlebihan
Beban berkepanjangan dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan Meningkatkan kadar hormon kortisol yang berkaitan Bersama kenaikan berat badan. Kebugaran ini juga dapat memperkuat dorongan Sebagai makan sebagai pelarian emosional.
Para ahli menyarankan agar orang-orang mengelola rasa Beban Melewati Metode Menenangkan seperti Bermeditasi, Pelatihan pernapasan, atau Olah Raga ringan yang dilakukan secara konsisten.
Bersama menurunkan tingkat Beban, produksi hormon Di tubuh menjadi lebih seimbang Agar keinginan makan berlebihan dapat ditekan. Mengelola Beban tak hanya bermanfaat Untuk Kesejaganan mental, tetapi juga berperan penting Di menjaga pola makan yang lebih terkontrol.
6. Rutin Aktivitasfisik
Aktivitasfisik ringan. Foto: Getty Images |
Olah Raga terbukti membantu Meningkatkan hormon yang berperan Di mengatur nafsu makan. Samping Itu, Aktivitasfisik juga mendukung fungsi metabolisme dan pengendalian berat badan secara keseluruhan.
Aktivitasfisik yang dilakukan tidak harus selalu berat, berjalan kaki atau Naik Sepeda santai pun dapat memberi manfaat jika dilakukan secara konsisten. Bersama tubuh yang aktif dan Segar, dorongan makan yang tidak terkontrol dapat berkurang Agar food noise lebih mudah diredam.
Halaman 2 Bersama 3
Simak Video “ Ahli Gizi Beri Aturan Konsumsi Gula Per Harinya Sebagai Cegah Diabetes“
(sob/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Sering Lapar Padahal Sudah Makan? Food Noise Bisa Karena Itu Penyebabnya











