Perdana Pejabat Tingginegara India, Narendra Modi dikabarkan Berencana berkunjung Hingga Yogyakarta Di Rabu (8/7) dan Menyediakan Pemberian Sebagai merestorasi candi Prambanan.
Pertemuan bilateral Kepala Negara Prabowo Subianto dan Perdana Pejabat Tingginegara India Narendra Modi Di 24-26 Januari tahun lalu melahirkan komitmen India Sebagai membantu restorasi dan revitalisasi kompleks candi Prambanan.
Pejabat Tingginegara Kebudayaan Fadli Zon mencatat Bersama ratusan bangunan Hingga kompleks Prambanan, pemugaran Terbaru menyentuh Di 30 candi utama. Ratusan candi perwara yang lebih kecil masih menunggu, sebagian masih berupa reruntuhan batu yang belum tersusun kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Janji Januari 2025 itu ternyata tidak berhenti sebagai basa-basi diplomatik. Pertengahan tahun ini, Untuk Joint Commission Meeting Ditengah Pejabat Tingginegara Luar Negeri Sugiono dan mitranya Bersama India, Subrahmanyam Jaishankar, Hingga New Delhi, kedua pihak menegaskan kembali keinginan India terlibat langsung Untuk restorasi candi Prambanan.
Regu Archaeological Survey of India (ASI) Justru sudah Menyoroti tahap awal dokumentasi struktur candi bersama Kementerian Kebudayaan. Fadli Zon menegaskan upaya ini tak berhenti Di Prambanan semata, melainkan mencakup satu lanskap Kearifan Lokal Global lebih luas bersama Candi Sewu dan Plaosan.
Kabar bahwa PM Modi dijadwalkan melakukan kunjungan balasan Hingga Indonesia menegaskan kerja sama ini bergerak Bersama retorika Di agenda kerja yang konkret.
Kerja sama ini bukan sekadar soal pelestarian cagar Kearifan Lokal Global, melainkan penanda bahwa Prambanan kini menempati posisi yang jauh lebih strategis Untuk hubungan luar negeri Indonesia. Perubahan fungsi itu sebetulnya bukan hal Terbaru.
Dari ditetapkan sebagai pusat Tempattinggal ibadah umat Hindu Indonesia dan dunia Di 2022, Prambanan memang diarahkan Sebagai melampaui fungsi tradisionalnya sebagai destinasi wisata atau situs arkeologi.
Candi Prambanan Sebagai Wisata Religi Hindu
Hingga balik penetapan itu, setidaknya terdapat tiga kepentingan strategis: menghasilkan devisa lewat wisata religi, memperkuat hubungan bilateral Bersama Negeri-Negeri yang Memperoleh kedekatan historis dan kultural Bersama Kearifan Lokal Hindu, serta membangun citra Indonesia sebagai Negeri berpenduduk Muslim terbesar yang tetap mampu merawat warisan Hindu Internasional.
Pasca penetapan, Prambanan lebih aktif difungsikan sebagai episentrum kegiatan keagamaan Hindu, bukan hanya Sebagai ibadah tetapi juga Pembaruan sumber daya manusia Hindu. Prambanan menjadi tuan Tempattinggal Shiva Perayaan Seni International 2026, forum Kearifan Lokal Global dan spiritual internasional yang berlangsung sebulan penuh.
Jumlah kunjungan wisata religi juga tercatat menguat: 23.090 (2023), 25.427 (2024), dan 25.675 (2025). Meski belum cukup Sebagai mengklaim Sukses Politik Luar Negeri, angka ini menandakan fungsi religius Prambanan Memperoleh sambutan yang konsisten.
Untuk kajian heritage diplomacy, Regu Winter (2015) menjelaskan bahwa warisan Kearifan Lokal Global kini bukan lagi sekadar peninggalan sejarah pasif, melainkan bisa menjadi instrumen sekaligus arena Politik Luar Negeri antarnegara. Untuk kerangka ini Prambanan telah melampaui fungsi objek pelestarian atau situs Kearifan Lokal Global semata.
Candi ini telah difungsikan sebagai medium strategis Untuk politik luar negeri Indonesia. Strategi ini dapat dibaca sekaligus bersifat reaktif dan proaktif: reaktif Lantaran merespons kebutuhan memperkuat narasi moderasi beragama dan toleransi, sekaligus proaktif Lantaran memanfaatkan Prambanan Sebagai memperluas kerja sama bilateral dan Membuat ekonomi berbasis Kearifan Lokal Global.
Langkah-langkah ini memberi alasan Terbaru Sebagai optimistis Di masa Didepan Politik Luar Negeri warisan Kearifan Lokal Global Indonesia. Indonesia Memperoleh modal yang langka: situs warisan dunia yang hidup sebagai ruang ibadah aktif, dikelola Bersama Negeri mayoritas Muslim, tetapi justru diakui India sebagai mitra sah Untuk pelestarian warisan Hindu.
Posisi semacam ini bukan sekadar modal citra, melainkan aset diplomatik yang sulit dibangun tanpa legitimasi sejarah, kepercayaan politik, dan kapasitas pengelolaan yang konsisten.
Benang merah Bersama optimisme itu sudah jelas: Untuk India, Prambanan bukan sekadar kompleks candi yang perlu dipugar, melainkan warisan yang Memperoleh kedekatan historis dan spiritual Bersama peradaban Hindu.
Perlu Kehati-hatian Menjadikan Warisan Kearifan Lokal Global Sebagai Instrumen Politik Luar Negeri
Akan Tetapi optimisme ini tetap perlu diimbangi Bersama kehati-hatian, sebab Politik Luar Negeri warisan Kearifan Lokal Global tidak berhenti Di bagaimana Negeri memproyeksikan kepentingannya Hingga luar negeri, tetapi juga Di bagaimana kepentingan-kepentingan Hingga Untuk negeri dikelola ketika warisan Kearifan Lokal Global dijadikan instrumen Politik Luar Negeri.
Hingga sinilah tantangan Prambanan jauh lebih rumit ketimbang sekadar mengelola citra. Sebagai living heritage yang diakui UNESCO, Prambanan adalah ruang pertemuan kepentingan yang tak selalu sejalan: kepentingan Negeri Untuk menjalankan Politik Luar Negeri, kepentingan umat Hindu yang menghendaki Prambanan tetap sakral sebagai ruang ibadah, kepentingan wisatawan yang memandangnya sebagai destinasi wisata dan Kajian, serta kepentingan konservasi atas nilai universal luar biasa situs tersebut.
Kompleksitas ini tecermin Untuk pengaturan teknis yang tampak kecil tetapi krusial: pembatasan penggunaan dupa dan cairan tertentu Pada ritual, kuota peserta ibadah, mekanisme perizinan, hingga wacana pembatasan akses wisatawan Hingga Candi Siwa Untuk menjaga kesakralannya.
Kajian Chalcraft (2021) tentang heritage diplomacy Menunjukkan bahwa ketika warisan Kearifan Lokal Global, termasuk yang bersifat religius, dijadikan instrumen Politik Luar Negeri, ia memang punya daya simbolik yang kuat, tetapi sekaligus rentan Di sensitivitas identitas, politik memori, dan kontestasi antarkomunitas. Risiko serupa tidak mustahil terjadi Hingga Prambanan.
Ketika restorasi bersama India benar-benar berjalan, persoalannya bukan lagi soal niat baik, melainkan tata kelola: siapa yang berwenang menentukan prioritas pemugaran, bagaimana memastikan restorasi tidak mengganggu ritus keagamaan, dan sampai Hingga mana keterlibatan Foreign dapat diterima tanpa menggeser otoritas Indonesia atas pengelolaan situsnya sendiri.
Lantaran itu, antusiasme menyambut tawaran India harus diimbangi Bersama kesiapan tata kelola yang mampu mempertemukan kepentingan Negeri, otoritas keagamaan, pengelola situs, dan standar konservasi Untuk satu mekanisme yang jelas.
Tanpa itu, gesekan domestik yang tampak kecil Hingga level situs justru dapat merusak kredibilitas Politik Luar Negeri warisan Kearifan Lokal Global Indonesia sendiri. Masa Didepan Prambanan Untuk Politik Luar Negeri warisan Kearifan Lokal Global, Di akhirnya, tak ditentukan semata Bersama Sukses memugar bangunan candinya.
Yang lebih menentukan adalah bagaimana Indonesia menjaga Kesejaganan Ditengah Politik Luar Negeri, konservasi, praktik keagamaan, dan kepentingan publik secara berkelanjutan, Bersama kerangka tata kelola yang jelas, bukan sekadar niat baik yang diuji satu per satu ketika masalah muncul. Hingga titik itulah Standar Politik Luar Negeri warisan Kearifan Lokal Global Indonesia sesungguhnya Berencana diuji.
——–
Artikel ini ditulis Bersama I Kadek Andre Nuaba. Penulis bekerja sebagai Dosen Ilmu Hubungan Antar Negara, Universitas Sriwijaya.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Video: JALAN YUK! Wisata Hingga Candi Prambanan“
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Menakar Masa Didepan Candi Prambanan, Warisan Kearifan Lokal Global yang Berencana Dikunjungi PM Modi











