loading…
Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa merespons, kekhawatiran investor atas lesunya pasar saham domestik menimbulkan Trend Populer Sell Indonesia serta ketakutan Berencana kembalinya peristiwa krisis 1998. Foto/Dok
Sebab itu, Purbaya meminta pelaku pasar dan investor tidak terbawa sentimen negatif yang berkembang. Baca Juga: Kurs Mata Uang Nasional Rp17.600 per Usd AS, Airlangga Beberkan Alasan Tak Sama Di Memori Kelam Krisis 1998
“Kita tidak Lagi Ke keadaan seperti 1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus. Hanya ada sentimen negatif yang mengganggu sedikit Di Kurs Mata Uang. Tapi itu harusnya bisa diperbaiki Di koordinasi yang baik-baik Di pemerintah, departemen keuangan, Di bank central,” ungkapnya Di sela kunjungannya Di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).
Purbaya menilai Gaya “Sell Indonesia” yang ramai diperbincangkan lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan Kepuasan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Ia Justru menyinggung salah satu tulisan yang memunculkan Gaya tersebut Sebab dinilai tidak menggambarkan Kepuasan Indonesia secara utuh.
“Itu salah satu penulis Mungkin Saja yang tidak tahu keadaan Indonesia seperti apa. Makanya kemarin saya percepat itu (Dana Pendapatan Belanja Bangsa) APBN Kita Sebagai memperlihatkan Hingga pasar bahwa Kepuasan fiskal kita baik, ekonominya kita juga cukup kuat, Agar nanti lama-lama sentiment negatif itu bisa hilang,” lanjutnya.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
Ia pun mengajak investor Sebagai melihat Kepuasan ekonomi Indonesia secara lebih komprehensif dan tidak hanya berpatokan Di sentimen jangka pendek Di pasar keuangan.
“Karena Itu teman-teman investor, tolong lihat lebih detail, pahami Kepuasan ekonominya seperti apa. Yang saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonominya bagus, kepemimpinan Bapak Kepala Negara masih cukup kuat Sebagai memastikan semua berjalan sesuai Di strategi pembangunan Bapak Kepala Negara,” pungkas Purbaya.
(akr)
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Kita Tak Lagi Ke Seperti 1998 Lagi











