Banyak Komunitas Menyoroti tekstur daging kurban yang cenderung lebih keras atau alot dibandingkan Di daging yang biasa dibeli Hingga swalayan. Ternyata, ada penjelasan ilmiah Hingga balik Trend Populer tahunan ini.
Guru Besar Keahlian Ketahanan Pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, MSc., menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama daging kurban menjadi alot adalah Situasi Beban Di hewan Sebelumnya disembelih serta absennya proses pelayuan (aging).
“Daging kurban itu Sesudah dipotong langsung didistribusikan dan dimasak. Padahal, Sesudah disembelih, terjadi fase kekakuan otot yang disebut rigor mortis. Faktor Beban Di binatang Di disembelih, misalnya Sebab diperlihatkan Pisau, juga memicu pengerutan struktur otot yang membuat daging Di Sebab Itu lebih alot,” jelas Prof Purwiyatno Di ditemui Hingga Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak Beban Pre-Slaughter
Penjelasan Prof Purwiyatno ini sejalan Di studi berjudul “Have we underestimated the impact of pre-slaughter stress on meat quality in ruminants?” yang dimuat Di jurnal internasional Meat Science. Studi tersebut Menunjukkan bahwa Beban Sebelumnya penyembelihan (pre-slaughter stress) menyebabkan pasokan glikogen (energi cadangan Hingga otot hewan) terkuras habis.
Ketika glikogen rendah, proses keasaman (penurunan pH) daging pasca-kematian tidak berjalan optimal. Sebab, otot Merasakan kontraksi maksimal yang menghasilkan tekstur daging yang keras, kering, dan kaku.
Hingga Tempattinggal potong hewan modern, daging biasanya melewati proses pelayuan Di suhu terkontrol Di 24 hingga 48 jam agar enzim alami tubuh dapat memecah kekakuan tersebut. Tetapi, Sebab pemotongan qurban Hingga Komunitas menuntut proses yang cepat Untuk mengejar waktu pembagian, Prof Purwiyatno menyebut fase Damai ini sering kali terlewati.
Tips Pakar agar Daging Lebih Rileks
Untuk menyiasatinya Hingga Tempattinggal, Prof Purwiyatno menyarankan agar daging tidak langsung buru-buru dimasak sesaat Sesudah diterima Di panitia kurban. Membiarkan daging beberapa Di seperti diangin-anginkan Di Situasi bersih, Memberi waktu Untuk otot-ototnya Untuk Merasakan Damai alami Supaya teksturnya melunak secara bertahap.
“Tetapi yang paling penting Untuk saya adalah aspek safety-nya (Keselamatan Ketahanan Pangan) dan kebersihannya. Kalau Mutu keempukannya berkurang sedikit tidak apa-apa, apalagi kebiasaan memasak kita Hingga Indonesia umumnya Di Hingga over cooking (sangat matang) atau nanti dihangatkan lagi,” pungkasnya.
Halaman 2 Di 2
Simak Video “Video: Jeroan Vs Kulit Sapi, Mana Lebih ‘Sehat’?“
Tips Sehat Menyantap Daging Kurban
11 Konten
Untuk sebagian orang, nikmatnya menyantap daging kurban selalu dibayangi Di risiko Kesejajaran. Kolesterol dan asam urat bikin kepikiran, padahal sebenarnya bisa dikelola Di baik.
Konten Berikutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Sering Bikin Gigi Pegal, Pakar IPB Ungkap Alasan Ilmiah Daging Kurban Cenderung Alot











