Pembantu Presiden Tim Menteri Kesejajaran (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti pentingnya Penyembuhan trauma Ke korban anak pasca-bencana Hingga Sumatera dan Aceh. Kemenkes pun mengirimkan Volunteer yang khusus Sebagai mengatasi hal tersebut.
“Di penanganan bencana, menyembuhkan luka fisik itu memang penting. Tapi menyembuhkan trauma batin, terutama Ke anak-anak, jauh lebih krusial,” tulis Menkes, dikutip Didalam Instagram pribadinya, Minggu (4/1/2026).
“Hingga Posko Kesejajaran Kota Kuala Simpang, saya bertemu sosok inspiratif, ia bernama Kak Mull; seorang perawat Hingga satuan unit stroke RS Wahidin Sudirohusodo Makassar,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ventriloquisme Sebagai Tawa Anak-anak
Namana Muliadi, seorang ventriloquist (ahli suara perut) Didalam bonekanya bernama ‘Aco’. Menurut Menkes, kak Mull dan Aco berhasil mengubah posko yang tegang menjadi penuh gelak tawa.
Metode bercerita (storytelling) ini adalah Dibagian penting Didalam Trauma Healing. Anak-anak diajak berinteraksi, tertawa, dan sejenak melupakan ketakutan akibat Genangan Air yang mereka alami. Kesejajaran jiwa mereka harus tetap dijaga agar mereka tetap tumbuh ceria meski Hingga Ditengah keterbatasan.
“Terima kasih Kak Mull dan Aco. Kalian membuktikan bahwa Terapi yang manjur tidak melulu berbentuk pil, tapi bisa juga berupa tawa,” kata Menkes.
Bentuk Trauma Korban Bencana
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih mengatakan trauma psikologis yang Mungkin Saja dialami korban bencana bisa berkaitan Didalam kejadian mengerikan yang Sebelumnya mereka lihat.
“Bisa saja menjadi takut air, takut hujan, atau takut kembali Hingga lokasi yang sama Lantaran semua itu terhubung Didalam memori menakutkan,” kata Rani, kepada detikcom Pada dihubungi beberapa waktu lalu.
Rani melanjutkan bahwa anak-anak merupakan korban yang paling rentan Merasakan trauma pasca-bencana.
“Penghayatan traumatis bisa muncul Lantaran mereka belum Memiliki kapasitas emosional Sebagai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang mereka lihat seperti air besar, suara keras, kepanikan orang dewasa langsung terekam sebagai sesuatu ancaman,” katanya.
“Hal ini terjadi Melewati proses conditioning Hingga otak, Hingga Di Itu adanya rasa tidak aman, kewaspadaan berlebihan, mereka tidak mau jauh Didalam orang tua, atau tampak cemas Lantaran memang tubuh mereka masih berada Di Tren siaga,” tutupnya.
Halaman 2 Didalam 2
(dpy/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Menkes Bagikan Cerita Volunteer Pulihkan Trauma Anak Pasca-bencana Hingga Aceh











