loading…
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.
Sore kemarin, usai shalat Ashar, kami berjalan-jalan Hingga Jardin Di pesantren. Mataharinya cukup cerah, tidak seperti biasanya yang mendung Lantaran hujan. Dan Hingga sudut kebun itu, kami berhenti. Memandang satu pohon pisang yang Di berbuah.
Batangnya kokoh. Daunnya lebar membentang. Tandan pisangnya menggantung penuh, siap panen. Tapi Hingga pangkalnya, terlihat ada beberapa tunas kecil mulai muncul. Anak-anak pisang itu Berencana tumbuh Setelahnya induknya ditebang nanti.
Pada itu kami teringat Ke KH. Mahrus Amin, salah satu pendiri Pondok Pesantren Darunnajah. Beliau mewariskan sebuah filosofi yang sederhana tapi sangat Di maknanya, falsafah pohon pisang .
Satu Pohon, Sejuta Manfaat
KH. Mahrus Amin sering mengajak para santri dan asatidz Untuk merenungkan pohon pisang. Beliau lahir Hingga Cirebon, 14 Februari 1940, dan Dari kecil akrab Bersama alam pedesaan. Mungkin Saja Bersama situlah beliau Memutuskan pelajaran .
Pohon pisang itu unik. Hampir semua bagiannya bermanfaat. Buahnya menjadi Konsumsi. Daunnya Untuk membungkus. Batangnya bisa diolah Bersama Sebab Itu pakan ternak. Jantung pisang Bersama Sebab Itu sayuran. Justru pelepahnya dulu Bersama Sebab Itu mainan anak-anak kampung .
Tapi yang paling Memikat, menurut KH. Mahrus, adalah cara pohon pisang beregenerasi.
Beliau menjelaskan, pohon pisang hanya berbuah sekali seumur hidup. Setelahnya buahnya matang dan dipanen, batang induknya Berencana mati dan ditebang. Tapi Sebelumnya mati, ia sudah meninggalkan tunas-tunas Terbaru Hingga sekitarnya. Tunas-tunas inilah yang Berencana tumbuh menjadi pohon-pohon Terbaru, berbuah, dan kembali meninggalkan tunas berikutnya .
Bukan hanya tentang memberi manfaat, tapi juga tentang memastikan Sustainability manfaat itu.
Tunas yang Harus Dipisahkan
Ada satu pesan KH. Mahrus yang selalu membuat para santri merenung. Beliau mengatakan, tunas-tunas pohon pisang yang tumbuh Hingga Disekitar induknya, jika dibiarkan terus Hingga situ, tidak Berencana tumbuh maksimal. Mereka harus dipisahkan. Ditanam Hingga tempat lain. Hingga tanah yang Terbaru. Agar bisa tumbuh menjadi pohon-pohon Terbaru yang juga bermanfaat Untuk lingkungan sekelilingnya .
Filosofi inilah yang Lalu beliau terapkan Di Menyusun pesantren.
KH. Mahrus bersama KH. Abdul Manaf Mukhayyar dan KH. Qomaruzzaman mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah Hingga atas tanah wakaf seluas 4,7 hektare Hingga Ulujami, Jakarta Selatan, Ke 1 April 1974. Sebenarnya nama Darunnajah sudah ada Dari 1960 an dan cikal bakalnya Bersama Madrasah Islamiyah Hingga Palmerah Dari 1938. Santri pertama ketika menjadi pesantren hanya tiga orang. Tapi mereka punya mimpi besar.
Bersama satu induk Hingga Ulujami, lahirlah tunas-tunas. Bukan Di arti fisik semata, tapi Di bentuk pesantren-pesantren cabang yang tersebar Hingga berbagai Lokasi. Hingga kini, Darunnajah Memiliki puluhan cabang dan satuan Pembelajaran Hingga seluruh Indonesia .
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Menelusuri Warisan Pemikiran KH. Mahrus Amin











