loading…
Pasar keuangan dan energi Internasional kembali terguncang, Sambil Itu bursa saham Di kawasan Asia berguguran seiring Bersama memanasnya konflik AS-Israel Bersama Iran yang kini memasuki pekan kelima. Foto/Dok
Ketegangan Menimbulkan Kekhawatiran drastis Sesudah pemberontak Houthi Di Yaman resmi bergabung Di konflik Bersama menyerang Israel akhir pekan lalu. Di Pada yang sama, Teheran mengancam Berencana memperluas serangan balasan Di fasilitas dan kediaman pejabat AS serta Israel.
Harga Migas mentah jenis Brent naik lebih Bersama 3% menjadi USD115,20 per barel. Sambil Itu Migas mentah AS (WTI) merangkak naik Di level USD101,62/barel. Gaya ini menempatkan Brent Di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.
Baca Juga: Eropa Terancam Kelangkaan BBM Bulan Didepan! Peringatan Keras Efek Konflik Bersenjata AS-Israel vs Iran
Sebagai perbandingan, Di 27 Februari -sehari Sebelumnya serangan pertama dimulai- harga Brent masih berada Di kisaran USD72. Hanya Di waktu satu bulan, harga Migas Brent yang menjadi patokan Internasional telah meroket lebih Bersama 60%.
Bursa Asia Memerah
Ketidakpastian Politik Global ini memicu Aksi Keluhan Masyarakat jual masif Di pasar saham. Terpantau indeks Nikkei 225 (Jepang) merosot 2,8%, sedangkan Kospi Di Korea Selatan berakhir melemah hampir 3%.
Investor mengkhawatirkan disrupsi pasokan energi jangka panjang, mengingat Asia merupakan Area yang sangat bergantung Di aliran Migas Bersama Timur Ditengah.
Trump Bidik Ladang Migas Iran
Pemimpin Negara AS Donald Trump Di wawancara Bersama Financial Times, melontarkan pernyataan provokatif. Ia Mengungkapkan kemungkinan AS Berencana menguasai pusat bahan bakar utama Iran Di Pulau Kharg.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Harga Migas Tembus USD115/Barel, Bursa Asia Bergolak, Krisis Kelaparan Global Mengintai Dunia!











